Home
Login.
Artikelilmiahs
19235
Update
REZHA ABY PURWA
NIM
Judul Artikel
Hegemoni dan Memori Kolektif: Warisan Kekuasaan Soeharto di Museum Keprajuritan Indonesia & Museum Purna Bhakti Pertiwi Kawasan Taman Mini Indonesia Indah
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini bertujuan menggambarkan hegemoni kekuasaan di tengah ruang publik, melalui pemaknaan terhadap keberadaan Museum Keprajuritan Indonesia dan Museum Purna Bhakti Pertiwi di Kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Peneliti meyakini museum menjadi suatu media bagi hadirnya memori kolektif atas hegemoni kekuasaan oleh pihak tertentu. Penelitian dilaksanakan dengan cara berpikir yang meyakini bahwa realitas sosial merupakan hasil kontruksi aktor, aktor dalam hal ini ialah Soeharto. Penelitian ini berjalan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis, melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan keberadaan Museum Keprajuritan Indonesia dan Museum Purna Bhakti Pertiwi di Taman Mini Indonesia Indah sangat dipengaruhi kekuasaan Soeharto. Sebagai bagian dari Pusat Sejarah ABRI, Keberadaan Museum Keprajuritan Indonesia turut melegitimasikan citra ABRI secara positif. Adapun keberadaan Museum Purna Bhakti Pertiwi dapat dimaknai sebagai media untuk membentuk atau memperkuat citra Soeharto sebagai prajurit dan negarawan, yang tidak melupakan latar belakang dirinya sebagai seorang Jawa. Museum Purna Bhakti Pertiwi adalah alat rekam jejak tentang Soeharto sebagai seorang tokoh besar, yang disampaikan dan diharapkan dapat diingat oleh publik. Kesimpulan yang diperoleh adalah, Museum Keprajuritan Indonesia dan Museum Purna Bhakti Pertiwi di Kawasan Taman Mini Indonesia Indah dapat dimaknai sebagai bentuk legitimasi simbolis dari hegemoni kekuasaan rezim Orde Baru Soeharto. Adalah media bagi warisan gagasan, juga arena bagi politik memori, tentang pembentukan ingatan bersama atas dasar kontruksi pihak penguasa. Pada akhirnya Museum Keprajuritan Indonesia dan Museum Purna Bhakti Pertiwi adalah bagian dari ruang publik, tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kekuasaan yang berusaha untuk membentuk makna sosial dan legal.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The purpose of this study to desribe hegemony of power in the middle of city public space, through the meaning of existence Keprajuritan Indonesia Museum and Purna Bhakti Pertiwi museum had located in Taman Mini Indonesia Indah. Seeing museum as a public space, researcher believed that museum became a medium for the presence of collective memory as hegemony of power by certain parties. This study implemented with a way of thinking that believes social reality is a result of construct or the action of actor. The actor in this study is Soeharto. This study used a qualitative method with historical study, by in-depth interviews, observation and documentation. The result of this study show that existence of Keprajuritan Indonesia museum and Purna Bhakti Pertiwi Museum in Taman Mini Indonesia Indah had been influenced by Soeharto's power, as well the contents of the museum that reflects the interests of the regime, his family as well. As a part of The Center For History Indonesian Military, Keprajuritan Indonesia Museum also legitimized Indonesian Military's image positively. As for the existence of Purna Bhakti Pertiwi Museum can be regarded as a medium to build or strengthen Suharto's image as a soldier and statesman, who doesn't forget his background as a Javanese. The Purna Bhakti Pertiwi museum is a track record of Soeharto as a great figure, conveyed and expected to be remembered by the public. The conclusion gave in this study is that Keprajuritan Indonesia Museum and Purna Bhakti Pertiwi Museum in Taman Mini Indonesia Indah can be interpreted as symbolic legitimation from hegemony of power of Soeharto's New Order regime. It's a medium for the heritage of ideas, as well as the arena for the politics memory, about a formation of shared memories on the basis of the construction of the rulers. In the end Keprajuritan Indonesia Museum and Purna Bhakti Pertiwi Museum are parts of the public space, it can't be separated from the influence of power that seeks to shape social and legal meaning.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save