Home
Login.
Artikelilmiahs
17582
Update
PERMATA PUTRA SEJATI
NIM
Judul Artikel
KEKUATAN POLITIK KAUM CENDEKIAWAN BANYUMAS Asal-Usul dan Perkembangannya Pasca Orde Baru
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Aktivitas politik merepresentasikan intelektualitas, siapa saja yang melibatkan diri dalam aktivitas politik dalam kerangka masyarakat sipil pasca Orde Baru telah berhasil menjalankan fungsi kecendekiawanannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penentuan informan menggunakan purposif sampling yaitu sejarawan Banyumas Soedarmadji, budayawan Banyumas Ahmad Tohari, Akademisi Rubianto Misman dan Suwarno. Sedangkan validitas data pada penelitian ini menggunakan model analisis interaktif. Yang memuat tiga hal utama yaitu: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa, cendekiawan Banyumas pasca Orde Baru mesti dipahami dalam kerangka transformasi masyarakat sipil. Dimana semakin banyak aktor intelektual yang ikut dalam aktivitas politik, tidak hanya pada segelintir orang yang memiliki status sosial dan ekonomi tertentu di Banyumas seperti sosok cendekiawan piyayi, Muslim atau militer saja. Cendekiawan Banyumas pasca Orde Baru adalah siapa saja yang mampu mengembangkan potensi dan kapasitas intelektualnya dalam berbagai aktivitas politik. Tokoh masyarakat sipil seperti: genealogi tokoh-tokoh Muslim, priyayi, dan militer masih cukup berperan. Akan tetapi, para politisi berpengaruh, penulis terkemuka, akademisi, sejarawan, budayawan, aktivis pergerakan sosial adalah bentuk nyata dari kekuatan sosial sekaligus kekuatan politik yang memiliki fungsi khusus, yaitu fungsi intelektual. Mereka semua adalah agen kelas dalam mengorganisir hegemoni masyarakat sipil di Banyumas Pasca Orde Baru.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Political activity represents intellect, anyone who engage in political activities within the framework of civil society after the New Order has been successfully running his intellectual function. This study uses qualitative research with phenomenological approach. Data collection techniques used in this study are in-depth interviews, observation, and documentation. Determination of informants using purposive sampling that Soedarmadji as Banyumas historians, cultural Banyumas Ahmad Tohari, Academics Rubianto Misman and Suwarno. While the validity of the data in this study using an interactive model. Which contains three main points namely: data collection, data reduction, data presentation, conclusions. The results showed that, after the New Order Banyumas intellectual must be understood within the framework of the transformation of civil society. Where more and more intellectual actors who participate in political activity, not just the few who have a certain social and economic status in Banyumas like royalty intellectual figure, Muslim or the military alone. Intellectual Banyumas post-New Order is anyone who is able to develop the potential and intellectual capacity in a variety of political activity. Civil society figures such as: Genealogy Muslim figures, gentry, and the military is still quite a role. However, the influential politicians, prominent writers, academics, historians, cultural, social movement activists is a real form of social power once the political forces that have special functions, namely intellectual function. They all are the agent class hegemony in organizing civil society in Banyumas Post-New Order.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save