Home
Login.
Artikelilmiahs
17501
Update
HESTI CAHYANINGRUM
NIM
Judul Artikel
PENGHAMBATAN Pseudomonas fluorescens TERHADAP MIKROBA PERUT TIGA JENIS SERANGGA HAMA (Crocidolomia pavonana, Epilachna vigintioctopunctata, dan Helicoverpa armigera)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat bakteri Pseudomonas fluorescens isolat P32 dan P60 terhadap bakteri endosimbion pada larva Crocidolomia pavonana, Epilachna vigintioctopunctata, dan Helicoverpa armigera secara in-vitro dan in-vivo. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman dari bulan Agustus 2015 sampai Agustus 2016. Penelitian terdiri dari dua sub penelitian yaitu uji hambat in-vitro dan in-vivo. Uji hambat in-vitro merupakan uji hambat bakteri P. fluorescens terhadap bakteri endosimbion pada media Nutrient Agar. Variabel yang diamati adalah tingkat penghambatan terhadap koloni bakteri. Uji hambat in-vivo merupakan pengaruh pemberian P. fluorescens terhadap bakteri endosimbion pada larva dengan cara pakan larva dicelupkan pada suspensi bakteri P. fluorescens (isolat P32 dan P60) dengan tingkat konsentrasi yang berbeda selama 5 menit, dikeringanginkan dan diletakkan pada stoples tertutup untuk masing-masing larva. Setelah diberi pakan selama 72 jam, larva disterilisasi permukaannya, disayat dan diambil bagian abdomen ± 1 g, dimasukkan ke dalam 99 ml air dan dikocok selama 5 menit, lalu dibuat pengenceran hingga 10-10. Masing-masing pengenceran ditumbuhkan 0,1 ml ke media Nutrient Agar dan diinkubasi selama 24 jam, selanjutnya diamati bakteri yang tumbuh. Koloni bakteri diisolasi berdasarkan perbedaan morfologi dan warna koloninya, setelah itu dilihat karakteristiknya secara makroskopik dan mikroskopik dan dibandingkan dengan isolat bakteri endosimbion dari kontrol. Konsentrasi P. fluorescens yang digunakan untuk uji hambat ¬in-vivo yaitu: K1 = 105 sel/ml dan K2 = 1010 sel/ml. Percobaan ini diulang 3 kali. Setiap perlakuan percobaan menggunakan larva 10 ekor. Hasil penelitian menunjukkan zona bening bakteri P. fluorescens isolat P32 dengan hasil terlebar pada Serratia marcescens dan hasil zona bening tersempit pada Bacillus amyloliquefaciens dan Pseudomonas putida. Zona bening isolat P60 dengan hasil terlebar pada Acinetobacter calcoaceticus dan Serratia marcescens, sedangkan hasil zona bening tersempit pada Bacillus amyloliquefaciens dan Pseudomonas putida. Berdasarkan morfologi makroskopik dan mikroskopiknya pada penelitian in-vivo, Serratia marcescens adalah jenis bakteri endosimbion yang tidak tumbuh setelah perlakuan P. fluorescens isolat P32 dan P60 pada larva C. pavonana dan H. armigera.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The research aimed to determine the inhibition of Pseudomonas fluorescens P32 and P60 against bacterium endosymbiont in the larvae of Crocidolomia pavonana, Epilachna vigintioctopunctata, and Helicoverpa armigera using in-vitro and in-vivo. The research was conducted at the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University started from August 2015 until August 2016. The research consisted of two sub-experiment ie. in-vitro and in-vivo inhibition test. The in-vitro inhibition test was a inhibition test for P. fluorescens against bacterium endosymbionts on Nutrient Agar medium. The observed variable was inhibition degree of bacterium colonies. The in-vivo inhibition test was effect of P. fluorescens against bacterium endosymbiont in larvae that were feed with vegetables that had been dipped in a bacterium suspension of P. fluorescens (P32 and P60) with different concentration levels for 5 minutes, then air dried and placed in a covered jar for each larva. After 72 hours feeding, the larvae were surfaces sterilized, cut the abdomen and take ± 1 g of the abdomen, put it into 99 ml of water and shaken for 5 minutes, then made a dilution up to 10-10. 0.1 ml of each dilution was grown to Nutrient Agar medium and incubated for 24 hours, then observed bacterium growth. Bacterium were isolated based on colony differences in morphology and color. Macroscopic and microscopic characteristics were compared to bacterium endosymbiont isolates from untreated larvae. The concentration of P. fluorescens are used for in-vivo activity ie. K1 = 105 cells/ml, and K2 = 1010 cells/ml. These in-vivo test has repeated 3 times. Each unit treatment trials contained 10 larvae. Results showed that clear zone the P. fluorescens P32 produce widest clear zone on Serratia marcescens and produce narrowest clear zone on Bacillus amyloliquefaciens and Pseudomonas putida. The clear zone P60 produce widest clear zone on Acinetobacter calcoaceticus and Serratia marcescens, while produce narrowest clear zone on Bacillus amyloliquefaciens and Pseudomonas putida. Based on macroscopic and microscopic morphology of the in-vivo research, Serratia marcescens was a bacterium endosymbionts that did not growth after treatment of P. fluorescens P32 and P60 in C. pavonana and H. armigera larvae.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save