Home
Login.
Artikelilmiahs
16886
Update
CHAYRUNNISA RISKY SEPTAVY
NIM
Judul Artikel
PERGAULAN BEBAS MAHASISWA KOS DI DESA KARANG SALAM KECAMATAN KEDUNG BANTENG
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Pergaulan bebas mahasiswa kos merupakan salah satu perilaku yang dimiliki seseorang dalam melakukan hubungan atau interaksi dengan lingkungan sosialnya baik dengan sesama jenis maupun lawan jenis dengan menunjukkan gejala yang kurang santun, mengesampingkan etika, dan kurang terkontrol sesuai dengan norma-norma sosial. Pergaulan bebas disini sedikit banyak dipengaruhi baik oleh lingkungan sekitar maupun sajian dari media massa seperti : internet, televisi, surat kabar dan sejenisnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab terjadinya pergaulan bebas dan mengetahui bentuk-bentuk pergaulan bebas di kalangan mahasiswa kos. Lokasi penelitian ini adalah Desa Karang Salam Kecamatan Kedung Banteng Kabupaten Banyumas. Sasaran utama penelitian ini adalah mahasiswa kos di lokasi penelitian, utamanya yang dikategorikan melakukan pergaulan bebas. Metode penelitian yang dipakai adalah deskriptif kualitatif dengan teknik menggunakan purposive sampling. Metode pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan metode analisis interaktif yang komponennya terdiri atas : pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Faktor penyebab yang mempengaruhi seorang mahasiswa melakukan pergaulan bebas adalah adanya dorongan rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba sesuatu yang baru dan belum diketahui dalam hidupnya, faktor lingkungan fisik (kondisi tempat kos) dan sosial yang rentan, ketidaksanggupan seseorang dalam menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya, kurangnya pengawasan orang tua, lemahnya kontrol sosial, dan sikap permisif dari sesama penghuni kos. Bentuk pergaulan bebas yang dilakukan mahasiswa kos merupakan perilaku yang bersifat menyimpang dimata masyarakat. Kebanyakan mahasiswa yang tinggal di rumah kos cenderung menonjolkan perilaku yang tidak diinginkan masyarakat dan seolah-olah tidak mau tahu dengan keinginan dan harapan atas keberadaan mereka. Mahasiswa kos disini cenderung berperilaku seperti cara berpacaran yang bebas sampai “ngamar”, sopan santun yang tidak dijaga, batas waktu berkunjung yang terlalu malam, dan perilaku alkoholisme atau mabuk-mabukan, meskipun masyarakat sekitar telah melakukan berbagai usaha untuk mencegah terjadinya penyimpangan tersebut seperti melakukan ronda di malam hari, memberlakukan jam malam dan wajib lapor pada tamu yang datang di wilayah mereka. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perilaku menyimpang yang terjadi pada mahasiswa kos merupakan hasil proses belajar yang mereka lakukan, baik dengan lingkungan sekitarnya maupun dengan teman atau kelompok pergaulannya. Proses belajar tersebut terjadi secara perlahan namun berlangsung terus menerus yang pada akhirnya, secara tidak sadar mahasiswa tersebut telah mempraktekkan perilaku menyimpang dalam kehidupan sehari-harinya. Selain itu kurangnya kontrol sosial yang dilakukan oleh orang tua dan masyarakat sekitar menjadikan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak kos seperti jamur yang tumbuh di musim hujan, setiap saat perilaku tersebut semakin bertambah.Implikasinya adalah baik para penghuni kos, pemilik kos, dan penjaga kos sebaiknya memberikan kontrol sosial yang lebih intens dan tegas tentang pergaulan anak kos yang dirasa sudah terlalu bebas karena untuk menjaga nama baik lingkungan, citra daerah, dan citra lembaga pendidikan tinggi serta membuat aturan yang bersifat tegas di setiap rumah kos dalam bentuk kertas yang ditempel di setiap rumah atau kamar kos.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Free assocciation of boarding students with to represent one of behavior owned by the somebody in doing relation/link or interaction environmentally is its social is good with the humanity of type and also oposite gender by showing symptom which less be decent, overruling ethics, and less influenced by the goodness by environment of about and also from mass media of like : internet, television, newspaper, and of a kind. The purpose of this study is to determine the cause of promiscuity and know the shapes of promiscuity among students boarding. The location of this research is Karang Salam,Kedung Bantengsubdistrict, Banyumas Regency. The main target is the students boarding at the research sites, categorized primarily perform promiscuity. The research method used is descriptive qualitative techniques using purposive sampling, is they are considered to determine the depth and have a relationship with the problems examined and can be trusted as a valid data source. Data were collected by observation, interview, and documentation. Data analysis technique using interactive analysis method consisting of components of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion. Factors that affect a student doing free association is the encouragement of curiosity great to try something new and unknown in his life, physical environmental factors and socially vulnerable, the inability of a person to absorb the cultural norms into the personality, lack of supervision parents, lack of social control, and permissive attitude of the boarding school. Forms of promiscuity in which students boarding is a behavior that is strange and unique in the eyes of society. Most students living in boarding houses tend to accentuate the unwanted behavior as if the public and do not want to know the desires and expectations of their existence. Boarding stundents here tend to behave as a way of dating is free to "ngamar", courtesy unattended, limit visiting hours were too late, and the behavior of alcoholism or drunkenness although the surrounding community has made great efforts to prevent the occurrence of such deviations as to patrol at night, imposed a curfew and required to report to the guests that come their region. The conclusion of this study is a deviant behavior that occurs in children boarding is the result of a learning process that they do, both with the surrounding environment as well as with friends or her social group. The learning process occurs slowly, but continues in the end, are not aware the student has practiced deviant behavior in their daily lives. Besides the lack of social control that is carried out by parents and the surrounding community to make deviant behavior committed by children boarding like fungus that grows in the rainy season, every time the behavior is increasing. The implication is that both the boarders, boarding house owner, and guards boarding should provide social control is more intense and assertive about the association of children boarding becomes too freely because to maintain the good name of the environment, the image of the area, and the image of higher education institutions as well as making rules is emphatic in any boarding house in the form of paper taped to any home or dorm room.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save