Home
Login.
Artikelilmiahs
16530
Update
MOHAMMAD MUHLAS RIFANGI
NIM
Judul Artikel
Media Sosial di Kalangan Sufi (Studi Fenomenologi terhadap Pemaknaan Media Sosial oleh Jamaah Tarekat Khalidiyah Naqsabandiyah Kedung Paruk Banyumas.
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Sufi berasal dari tradisi Islam yang mendalam. Sufisme dibangun diatas kepasrahan dan rasa iman terhadap Allah SWT untuk mendapatkan sebuah pencerahan, ketenangan dalam hal beragama dan ketuhanan. Namun, sufi dalam masyarakat sering dipandang sebagai aliran yang hanya mengedepankan akhirat dan tidak mengurus perkara duniawi. Tarekat Khalidiyah Naqsabandiyah di Kedung Paruk, Banyumas merupakan salah satu aliran sufi yang telah lama ada. Uniknya, mereka menggunakan media sosial yang merupakan hal bersifat duniawi. Penggunaan media sosial ini melawan paradigm masyarakat yang menganggap sufi anti duniawi. Penelitian ini bermaksud mencari pengalaman bermedia dari jamaah sufi yang ada di Kedung Paruk, Banyumas yang kemudian melahirkan pemaknaan tersendiri terhadap media sosial. Metode yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan fenomenologi . Penelitian ini mengacu pada teori fenomenologi dari Alfred Schutz. Peneliti menetapkan 4 informan dengan kualifikasi khusus yaitu meliputi Mursyid (Guru Tarekat), Badal (Wakil), dan santri atau murid. Analisis data menggunakan metode analisis data fenomenologi dari Van Kaam. Hasil penelitian mengungkap beberapa pengalaman menggunakan media sosial pada jamaah sufi antara lain digunakan untuk: 1) Alat kontrol keluarga dan murid, 2) Alat konseling atau konsultasi, 3) Sarana dakwah, 4) Sarana hiburan, 5) Sarana perniagaan atau perdagangan. Melalui pengalaman tersebut, jamaah sufi di Kedung paruk memiliki pemaknaan tersendiri mengenai media sosial : 1) Media yang tidak dapat ditolak kehadirannya karena tuntutan jaman, 2) Media yang hadir sebagai pengejawantahan media batin, 3) Media yang strategis untuk berdakwah, 4) Media paling instan untuk menyebarkan informasi. -
Abtrak (Bhs. Inggris)
Abstract Sufi is derived from a deep Islamic traditions. Sufism is built upon resignation and a sense of faith in God to get an enlightenment, tranquility in terms of religion and divinity. However, Sufis in society is often seen as the only forward flow of the hereafter and do not take care of mundane matters. Tarekat Khalidiyah Naqsabandiyah in Kedung Paruk, Banyumas is one of the Sufi orders that have long existed. Uniquely, they are using social media that is worldly. The use of social media is against the paradigm of people who think the anti worldly Sufi. This study intends to seek experience of media from Sufi worshipers in Kedung Paruk, Banyumas which then spawned its own meaning to social media. The method used by the researchers is a qualitative research method using the phenomenological approach. This study refers to the theory of phenomenology of Alfred Schutz. Researchers set four informants with special qualifications which include Murshid (Master Tarekat), Badal (Deputy), and students or pupils. Data analysis using data analysis phenomenology of Van Kaam. Which revealed some experience using social media on Sufi worshipers, among others, be used for: 1) control device families and students, 2) Tool counseling or consultation, 3) Means of propaganda, 4) Means of entertainment, 5) Means of commerce or trade. Through this experience, pilgrims Sufi Kedung Paruk has a meaning of its own on social media: 1) Media that can not be denied attendance because of the demands of time, 2) Media are present as the embodiment of media mind, 3) Media is positioned to preach, 4) Media most instant to disseminate information.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save