Home
Login.
Artikelilmiahs
16089
Update
TITO SULISTIANTORO
NIM
Judul Artikel
Dampak Kenaikan Sea Surface Temperature (SST) Terhadap Karang Keras Hidup (Scleractinia) Di Nusa Dua, Bali
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Dampak dari naiknya sea surface temperature (SST) adalah kasus pemutihan karang. Penyebab pemutihan pada karang adalah hilangnya zooxanthella yang memberikan warna pada karang. Nusa Dua, Bali merupakan salah satu daerah hotspot di Indonesia, sehingga penting untuk mengetahui dampak dari kenaikan SST yang signifikan di daerah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui dampak kenaikan SST, perbandingan tutupan karang keras hidup sebelum dan sesudah kasus naiknya SST, dan prevalensi pemutihan karang di tiap genus dan Life Form serta parameter kualitas air. Pengambilan data dilakukan pada 2 lokasi di 2 stasiun, di Pantai Mengiat dan Samuh. Metode yang digunakan yakni metode transek sabuk (belt transect), dan Point Intercept Transect (PIT). Pengambilan data parameter kualitas air dilakukan secara in situ dengan menggunakan TDS meter, turbidity meter, sechii disk,dan pH meter. Hasil menunjukkan, persentase karang yang memutih di Pantai Mengiat sebesar 66%, Pantai Samuh sebesar 25%. Tutupan karang keras di Pantai Mengiat yang pada awalnya 23,4% menurun drastis menjadi 11,8%, sedangkan untuk Pantai Samuh yang semula mencapai 29,7%, menjadi 27,5%. Karang yang tidak mengalami pemutihan yakni Symphillia sp. dan Favia sp. Life Form yang paling sedikit mengalami pemutihan adalah karang yang berbentuk massive yakni sebesar 37,7%.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The impact of sea surface temperature (SST) rising is a case of coral bleaching. The cause of the coral bleaching is the loss of the zooxanthella which provide color on the coral. Nusa Dua, Bali is one of the hotspot area in Indonesia, so it is important to know the impact of a significant SST increase in the area. The purpose of this research was to determine the impact of the increase in SST, live hard coral cover ratio before and after the rising cases of SST, and the prevalence of coral bleaching in each genus and life form and also water quality parameters. Data were collected at two locations in two stations, in Mengiat and Samuh waters. Methods used i.e belt transect , and Point Intercept Transect (PIT). Water quality parameter data retrieval performed in situ using a TDS meter, turbidity meter, sechii disk, and a pH meter. Results showed that the percentage of bleached coral in Mengiat waters by 66%, Samuh by 25%. Hard coral cover in Mengiat waters initially plummeted 23.4% to 11.8%, while for the Samuh originally reached 29.7%, to 27.5%. Coral bleaching that are not experiencing the Symphillia sp. and Favia sp. Stylophora coral sp. 87.5% bleached. Life Form the least experienced coral bleaching is a massive shape which is equal to 37.7%.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save