Home
Login.
Artikelilmiahs
15128
Update
SITI MAESATUN NUR KHASANAH
NIM
Judul Artikel
APLIKASI METABOLIT SEKUNDER MIKROBA LIMA RHIZOSFER BAMBU TERHADAP PENEKANAN PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA PISANG ULI PASCAPANEN
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji daya hambat lima metabolit sekunder mikroba rhizosfer bambu (ampel, kasap, kuning, wulung, dan tali) terhadap pertumbuhan jamur Colletotricum musae dan mengendalikan penyakit antraknosa serta pengaruhnya terhadap mutu buah pisang uli pascapanen. Penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, mulai November 2015 sampai dengan Februari 2016. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap untuk uji in vitro, sedangan pada pengujian in vivo menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan terdiri atas kontrol, metabolit sekunder mikroba rhizosfer bambu ampel, kasap, kuning, wulung, dan tali. Variabel yang diamati adalah daya hambat, masa inkubasi, luas serangan, intensitas serangan, kekerasan buah, dan kadar gula, serta uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan metabolit sekunder mikroba rhizosfer bambu kuning, tali, dan wulung mampu menekan pertumbuhan jamur patogen sebesar 43,50%, 56,5% 45,5% in vitro, sedangkan pada uji in vivo metabolit sekunder mikroba rhizosfer bambu wulung mampu menunda masa inkubasi 37%, metabolit sekunder mikroba rhizosfer bambu ampel, kasap, kuning, dan tali mampu menekan luas serangan dan intensitas serangan masing – masing 83,89–84,79% dan 31,650–38,325%. Perlakuan metabolit sekunder mikroba rhizosfer bambu kuning dan wulung mampu menjaga kekerasan dan meningkatkan kadar gula pada buah pisang uli masing – masing sebesar 300% dan 5,74%. Semua perlakuan tidak memengaruhi terhadap uji organoleptik.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This research aimed to study inhibition ability of five rhizospheric microbes bamboos secondary metabolite (ampel, kasap, kuning, wulung, and tali bamboos) toward growth of Colletotrichum musae and control antrachnose and its effect on the quality of postharvest uli banana. This research was carried out at the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, started from November 2015 to February 2016. Completely randomized design was used in in vitro, and Randomized block design was used in in vivo test. The treatments were control, secondary metabolit of ampel, kasap, kuning, wulung, and tali bamboos rhizospheric microbes. Variables observed were inhibition zone, incubation period, attack area, disease intensity, hardness level, sugar content, and organoleptic test. Results of the research showed that the secondary metabolit of kuning, tali, and wulung bamboos rhizospheric microbes inhibit the pathogen growth in vitro between 43.50-56.5%, while secondary metabolit of wulung bamboo rhizospheric microbes was able to delay the incubation period as 37%, metabolit secondary of ampel, kasap, kuning, and tali bamboos rhizospheric microbes able to suppress attack area and disease intensity in vivo in the range of 83.89 – 84.79% and 31.650 – 38.325%, respectively. The metabolit secondary of kuning and wulung bamboos rhizospheric microbes able to stand fruit hardness and increase sugar contsent as 300% and 5.74% respectively. Every treatment didn’t influence organoleptic test.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save