Home
Login.
Artikelilmiahs
14943
Update
MEDINA FADLI LATUS SYAADAH
NIM
Judul Artikel
ARTIFICIAL BLOOD FEEDING DAN DETEKSI VIRUS DENGUE PADA NYAMUK Aedes aegypti DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MOLEKULER
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Pemberian pakan darah (blood feeding) merupakan bagian yang mendasar dan protokol penting dalam rearing nyamuk Aedes aegypti di insektarium, karena nyamuk Ae. aegypti betina membutuhkan pakan darah untuk perkembangan telur. Pemberian pakan darah dalam proses rearing nyamuk dapat dilakukan secara alami dan buatan atau artificial. Meskipun metode pemberian pakan darah secara alami dapat digunakan, terdapat beberapa kondisi dimana metode ini tidak boleh digunakan, seperti pada penelitian yang membutuhkan infeksi virus atau bakteri, maka pemberian pakan tidak dianjurkan menggunakan metode pemberian pakan darah secara alami. Selain itu, terdapat beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu, kesejahteraan hewan penelitian, kemungkinan terjadinya penyebaran penyakit dan pemeliharaan hewan yang membutuhkan biaya dan waktu yang lebih. Artificial blood feeding membran parafilm-M dapat menjadi solusi alternatif untuk menggantikan hewan hidup sebagai sumber darah. Artificial blood feeding membran parafilm-M tidak hanya digunakan sebagai metode pemberian pakan darah, tetapi dapat juga digunakan sebagai cara untuk menginfeksikan virus dengue ke nyamuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi nyamuk yang menghisap darah atau fed menggunakan metode artificial blood feeding membran parafilm-M dan mengetahui prevalensi nyamuk fed yang positif terinfeksi oleh virus dengue. Deteksi virus dengue dilakukan dengan menggunakan teknik real time RT-PCR Simplexa Dengue assay di laboratoriun dengue Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Hasil penelitian menunjukan prevalensi nyamuk yang fed mencapai 66,67 % dengan lama puasa 17 jam. Nyamuk yang menghisap darah dapat dipengaruhi oleh lama puasa nyamuk, waktu pemberian pakan darah dan atraktan yang menempel pada membran parafilm-M setelah digosokan ke kulit manusia. Prevalensi nyamuk Ae. aegypti yang fed yang terinfeksi virus dengue yaitu 20,83%. Prevalensi Ae. aegypti yang terinfeksi virus dengue dipengaruhi oleh sistem imun yang dimiliki oleh nyamuk dalam melawan virus dengue.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Blood feeding is a fundamental part and essential protocol for rearing Aedes aegypti in insectarium, because female mosquitoes need blood for egg development. Mosquiotoes blood feeding in rearing process can use natural or artificial method. Natural blood feeding method can not be used in some conditions, such as in the research that require the viral or bacterial infection. In addition, there are several aspects that need to be considered, i.e. the welfare of research animals, spread of disease, and maintenance of animals that require more cost and time. Artificial blood feeding parafilm-M membrane can be an alternative solution and subtitute a live animals as a source of blood. Artificial blood feeding parafilm-M membrane is not only used as a method of blood feeding but also can be used to infect the dengue virus to mosquitoes. This study was aimed to determine the prevalence of blood fed mosquitoes using artificial blood feeding parafilm-M membrane and determine the prevalence of blood fed mosquitoes infected by dengue virus. Detection of dengue virus was carried out by using Real Time RT-PCR Simplexa Dengue assay in laboratory Dengue Eijkman Institute for Molecular Biology. The results showed that the prevalence of blood fed mosquitoes reached 66.67% with fasting period for 17 hours. Blood feeding mosquitoes can be affected by fasting period, blood feeding time and attractant that attached to membrane parafilm-M after rubbed into human skin. The prevalence of blood fed Ae. aegypti infected by dengue virus was 20.83%. The prevalence of Ae. Aegypti mosquitoes infected by dengue virus was affected by the mosquitoes immune system against dengue virus
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save