Home
Login.
Artikelilmiahs
14153
Update
AKHMAD FATONI
NIM
Judul Artikel
POTRET KESENIAN BUNCIS (Pemaknaan Kesenian Buncis Oleh Pelaku Seni Buncis Di Desa Tanggeran Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Masyarakat Banyumas memiliki keanekaragaman budaya tradisional. Terhitung ada 36 jenis budaya tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Banyumas dari sejak zaman dahulu hingga sekarang. Budaya tradisional yang berkembang di masyarakat Banyumas berbeda-beda, hal itu dapat dilihat beberapa aspek kebudayaan antara lain pemahaman tentang leluhur, bahasa, folkor, budaya lisan, ritual dan kesenian. Kesenian buncis merupakan salah satu bentuk kebudayaan tradisonal Banyumas yang bernafaskan pertanian. Kesenian buncis dahulu dipentaskan sebagai bentuk permintaan, permohonan atau biasa disebut penyuwunan kepada sang pencipta untuk kegiatan pertanian. Namun kini kesenian buncis sudah beralih fungsi menjadi kesenian yang dipentaskan sebagai sarana hiburan untuk masyarakat. Penelitian dengan judul “POTRET KESENIAN BUNCIS (Pemaknaan Kesenian Buncis Oleh Pelaku Seni Buncis Di Desa Tanggeran Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas)” ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan para pelaku kesenian buncis terhadap kesenian buncis di Desa Tanggeran Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif yang menghasilkan data deskriptif dengan pendekatan sosiologi budaya. Sasaran dalam penelitian ini adalah para pelaku kesenian buncis di Desa Tanggeran. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan in-depth interview, observasi, serta dokumentasi. Ketiganya dianalisis dengan menggunakan model analisis interaktif, yang dikaji pula dengan menggunakan validitas data yaitu triangulasi sumber. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa pada dasarnya para pelaku memaknai kesenian buncis sebagai budaya peninggalan leluhur yang wajib dijaga dan dilestarikan. Kesenian buncis juga diartikan sebagai tari ndayakan karena melihat dari segi sejarah yang terjadi di masa lalu. Disebut tari ndayakan karena kostum dan tata rias para penari seni buncis mirip dengan orang-orang suku Dayak. Kesenian buncis dipentaskan sebagai sarana hiburan pada acara-acara tertentu, antara lain: hajatan pernikahan, khitanan, Festival Bambu Serayu, HUT RI, Hari Jadi Kabupaten Banyumas, Ekstravaganza Banyumas dan sebagainya. Kesenian buncis tergolong sebagai kesenian yang hampir punah, oleh karena itu perlu tindakan lebih agar kesenian tersebut tidak punah. Tindakan yang dilakukan oleh para pelaku kesenian buncis di Desa Tangeran untuk menjaga keberadaan kesenian tersebut agar tetap ada adalah mengadakan latihan rutin bagi Pelaku kesenian buncis dan mengajak masyarakat, khususnya generasi pemuda untuk bersama-sama dalam melestarikan kesenian buncis.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The community of Banyumas has cultural diversity traditional. There are 36 types of traditional culture that belongs to the community of Banyumas since ancient times to the present. Traditional culture that developed in the community of Banyumas have variacy, it can be seen several aspects of culture, among others, an understanding of the ancestors, languages, folkor, oral, rituals and art. Buncis is one form of traditional culture of the Banyumas agricultural. Buncis formerly staged as a form of demand, request or called penyuwunan to the creator for agricultural activities. But now the buncis has changed its function into art are staged as a means of entertainment for community. This research with title “PICTURES OF BUNCIS (Purport Buncis By The Actos Of Buncis In The Village Tanggeran Somagede District Banyumas Regency )” This aims to determine the meaning of the actors for buncis in the Village Tangerang Somagede District Banyumas Regency. The research method used is a qualitative research method that produces descriptive with approach a sociology culture. The targets of this research are the actors of buncis in the Village Tanggeran. The sampling technique used in this research using purposive sampling. Technique of collecting data used in this research is in-depth interview, observation, and documentation. All three were analyzed using an interactive model, studied also by using the validity of the data that is triangulation. Results of the study revealed that basically actors interpret buncis as a cultural heritage that must be maintained and preserved. Buncis is also interpreted as a dance ndayakan as seen in terms of the history that happened in the past. Called dance ndayakan because the costume and makeup dancers buncis similar to Dayak tribe. Buncis staged as a means of entertainment in special events, among other: party marriage, circumcision, Bambu Serayu Festival, Indonesian anniversary, Anniversaries Banyumas Regency, Ekstravaganza Banyumas and so on. Buncis classified as an endangered art, therefore needs action so the art are not extinct. Actions taken by the actors in the Village Tanggeran buncis to maintain the presence of the arts in order to stay there is to conduct an exercise routine for the actors buncis and urge community, especially young generation to come together in preserving the buncis.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save