Home
Login.
Artikelilmiahs
12032
Update
MAULANA MUHAMAD RIZKI AKBAR
NIM
Judul Artikel
ANALISIS RISIKO USAHATANI CABAI MERAH (Capsicum annum L.) DI KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Cabai merah merupakan salah satu jenis sayuran penting yang dibudidayakan secara komersial di Indonesia. Cabai merah memiliki peran strategis sebagai barang konsumsi rumah tangga dan bahan baku bagi industri pengolahan. Fluktuasi harga jual dan produktivitas cabai merah dapat mempengaruhi penerimaan dan pendapatan usahatani cabai merah. Keadaan yang fluktuatif ini mengindikasikan adanya risiko pada usahatani cabai merah. Petani cabai merah di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas juga menghadapi risiko usahatani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan yang mampu dicapai usahatani cabai merah dan besarnya risiko usahatani cabai merah di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 24 Januari sampai 28 Februari tahun 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Pengambilan sampel petani menggunakan metode proportional random sampling, didapatkan sampel petani sejumlah 38 orang dan 4 orang petani sebagai sampel pada simulasi. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, biaya, penerimaan, pendapatan, Break Even Point (BEP), koefisien varian, dan Monte Carlo Simulation. Hasil analisis biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani per hektar pada tahun 2014 menunjukkan bahwa rata-rata biaya adalah sebesar Rp45.561.977, penerimaan sebesar Rp89.542.132, dan pendapatan sebesar Rp43.980.155. BEP (unit) sebesar 1.471,68 kilogram dan BEP (penerimaan) sebesar Rp.20.603.514. Koefisien varian pendapatan usahatani per hektar pada tahun 2014 adalah sebesar 1,07. Proyeksi pendapatan rata-rata dengan metode simulasi pada skala usahatani satu (luas lahan 0,26 ha) adalah sebesar Rp7.165.194, skala usahatani dua (luas lahan 0,43 ha) adalah sebesar Rp17.392.195, dan skala usahatani tiga (luas lahan 0,53 ha) adalah sebesar Rp13.237.915. Proyeksi besarnya risiko usahatani cabai merah mengalami kerugian dengan metode simulasi pada skala usahatani satu (luas lahan 0,26 ha) adalah sebesar 31 persen, skala usahatani dua (luas lahan 0,43 ha) adalah sebesar 41 persen, dan skala usahatani tiga (luas lahan 0,53 ha) adalah sebesar 42 persen.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Red chili was one of the type of vegetable important commercially cultivated in Indonesia. Red chili has strategic role as the household consumption and raw material for processing industry. The fluctuations of selling price and productivity of red chili can affect revenue and return of red chili farming. This fluctuating conditions indicate a risk in red chili farming. The red chili farmer in Sumbang District Banyumas Regency also facing farming risk. The purpose of this study are to determine the amount of return can be achieved by red chili farming and the amount of the risk of red chili farming in Sumbang Dristrict Banyumas Regency. The research done on January 24th untui February 28th 2015. The method used in this study is survey. The sample taking of farmer uses proportional random sampling method that obtain 38 people of farmers and 4 people of farmers as sample of simulation. Analysis method that used are descriptive analysis, cost, revenue, return, Break Even Point (BEP), variant coefficient, and Monte Carlo Simulation. The result of cost, revenue, and return analysis of farming per hectare in 2014 showed that the average of cost is Rp45.561.977, revenue is Rp89.542.132, and return is Rp43.980.155. BEP (unit) is 1.471,68 kilogram and BEP (revenue) is Rp20.603.514. Variant coefficient of farming return per hectare in 2014 is 1,07. Projection of the average return with simulation method on farming scale one (land area (0,26 ha) is Rp7.165.194, farming scale two (land area 0,43 ha) is Rp17.392.195, and farming scale three (land area 0,53 ha) is Rp13.237.915. Projcetion amount of farming risk in red chili with simulation method in farming scale one (land area 0,26 ha) is 31 percent, farming scale two (land area 0,43 ha) is 41 percent, and farming scale three (land area 0,53 ha) is 42 percent.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save