Home
Login.
Artikelilmiahs
11517
Update
MUHAMAD A SEPTIANTO
NIM
Judul Artikel
IDENTIFIKASI KEGENJAHAN GALUR-GALUR F7 PADI GOGO HASIL PERSILANGAN SILUGONGGO × G-39 BERDASARKAN MARKA DNA MIKROSATELIT
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Identifikasi kegenjahan padi gogo galur F7 hasil persilangan antara varietas Silugonggo dengan G-39 secara molekuler dapat mendukung memudahkan seleksi dalam perakitan varietas unggul baru. Silugonggo merupakan varietas padi yang disukai petani karena berumur genjah dan adaptif. Umur panen varietas Silugonggo berdasarkan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2009) yaitu 85-90 hari setelah tanam (hst). G-39 adalah galur harapan padi gogo yang memiliki daya hasil tinggi, aromatik dan tekstur nasi pulen. Marka DNA mikrosatelit (simple sequence repeat/SSR) merupakan salah satu marka molekuler yang efektif dalam membedakan genotip. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1) mengetahui karakter molekuler sifat genjah pada galur-galur F7 padi gogo berdasarkan marka DNA mikrosatelit, 2) mengetahui primer terkait sifat genjah galur-galur F7 padi gogo berdasarkan marka DNA mikrosatelit, dan 3) mengetahui tingkat kekerabatan antar varietas dan galur padi yang dicoba. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2014 sampai Februari 2015 di Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan 14 genotip padi dengan duabelas primer mikrosatelit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pita DNA delapan galur F7 terkonfirmasi seragam pada ukuran yang sama dihasilkan oleh enam primer (RM223, RM 225, RM132, RM156, RM241, RM519). Delapan primer mikrosatelit yang polimorfik tidak dapat membedakan secara tegas antara genotip umur genjah dan umur dalam. Analisis filogenetik antar genotip yang diuji menunjukkan galur-galur F7 berkerabat dekat yang terbagi dalam 3 klaster. Selain itu galur tersebut terkonfirmasi berkerabat dekat dengan tetua Silugonggo dan G-39.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Early-ripening identification of F7 upland rice lines from a cross of “Silugonggo” x G-39 using molecular markers is necessary in selection process of breeding program. “Silugonggo” is popular among farmers because it has early-ripening character, and environmentally adaptive. Early-ripening character of “Silugonggo” based on Indonesian Center for Rice Research (2009) is 85-90 day after planting. Meanwhile G-39 is a prospect upland rice line which has high productivity, aromatic, and tasty character. Microsatellite DNA markers (Simple Sequaence Repeat/SSR) is a molecular markers that is reported to be effective to distinguish amongst genotypes. Aims of this research were: 1) to study the molecular characters of F7 upland rice lines with early-ripening character based on microsatellite DNA, 2)to identify primer corresponding to which early-ripening character F7 upland rice lines of based on microsatellite DNA,and 3)to determine phylogenetic relationship between varieties and line used in this research. This research was conducted from September 2014 to February 2015 taken place at Laboratory of Plant Breeding and Biotechnology, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto. 14 rice genotypes were used in this research with along 12 microsatelite primers. Result showed that generated DNA band patterns of eight F7 lines werw similar using six primer (RM223, RM225, RM132. RM156, RM241, RM519). Eight polymorphic microsatellite primers can not distinguish between genotypes with has early-ripening character or delayed-ripening character. Phylogenic analysis showed that F7 lines has a close relationship and were divided into three clusters. Moreover those-lines were closely related to their parents which were “Silugonggo × G-39 .
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save