Home
Login.
Artikelilmiahs
11215
Update
AKHMAD SYARIFFIANTO
NIM
Judul Artikel
KAJIAN EROSI DAN KEHILANGAN NUTRISI TANAH PADA LAHAN KENTANG ATLANTIK DENGAN APLIKASI BIOARANG, DAN VARIASI JENIS PUPUK DAN MULSA
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Kentang pada umumnya ditanam pada lahan miring di dataran tinggi tropis dengan sistem guludan vertikal, yang pada gilirannya memicu terjadinya erosi terutama pada musim hujan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi besarnya aliran permukaan dan kehilangan tanah pada lahan kentang dengan sistem guludan horizontal di bawah aplikasi bioarang, serta variasi jenis pupuk dan mulsa. Penelitian dilakukan di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, sedangkan analisis Laboratorium dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah dan Laboratorium Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2014. Perlakuan dibedakan berdasarkan jenis pupuk dan mulsa yang digunakan, yaitu: Mulsa Plastik dengan Pupuk Organik (MPO), Mulsa Jerami dengan Pupuk Organik (MJO), Tanpa Mulsa dengan Pupuk Organik (TMO), Mulsa Plastik dengan Pupuk Kimia (MPK), Mulsa Jerami dengan Pupuk Kimia (MJK), Tanpa Mulsa dengan Pupuk Kimia (TMK). Variabel yang diamati meliputi Aliran Permukaan dan Kehilangan Tanah dan Nutrisi terutama N dan P (untuk pengukuran langsung di lapang), serta Erosivitas (R), Erodibilitas (K), Faktor Panjang Lereng (L), Faktor Kemiringan Lereng (S), Faktor Pengelolaan Tanaman (C) dan Faktor Pengelolaan dan Konservasi Tanah (P) (untuk pendugaan). Analisis dilakukan secara grafis dan perhitungan dengan metode Universal Soil Loss Equation (USLE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya aliran permukaan pada masing-masing demplot adalah MPO: 617.1 m³/ha, MJO: 631.59 m³/ha, TMO: 661.87 m³/ha, MPK: 541.98 m³/ha, MJK: 561.95 m³/ha dan TMK: 615.27 m³/ha. Besarnya kehilangan tanah hasil pengukuran langsung di lapangan pada masing-masing demplot adalah MPO: 1.88 ton/ha, MJO: 2.15 ton/ha, TMO: 3.62 ton/ha, MPK: 1.99 ton/ha, MJK: 2.29 ton/ha dan TMK: 3.23 ton/ha, sedangkan besarnya kehilangan tanah hasil prediksi pada masing-masing demplot adalah MPO: 2.35 ton/ha, MJO: 2.35 ton/ha, TMO: 8.40 ton/ha, MPK: 2.35 ton/ha, MJK: 2.35 ton/ha dan TMK: 8.40 ton/ha. Besarnya kehilangan nutrisi hasil pengukuran langsung di lapangan pada masing-masing demplot adalah MPO: 113.85 kg/ha (N) dan 146.50 kg/ha (P), MJO: 127.59 kg/ha (N) dan 111.65 kg/ha (P), TMO: 88.19 kg/ha (N) dan 104.83 kg/ha (P), MPK: 60.86 kg/ha (N) dan 71.34 kg/ha (P), MJK: 92.04 kg/ha (N) dan 97.37 kg/ha (P) dan TMK: 99.65 kg/ha (N) dan 129.26 kg/ha (P).
Abtrak (Bhs. Inggris)
Potato is generally cultivated in sloping land of tropical agricultural areas with vertical ridge system, which in turn encourages erosion particularly in rainy season. This research was aimed to identify the rate of surface runoff and soil loss on the potato-cropping plot with horizontal ridge system under biochar, and different fertilizer and mulch application. The research was conducted at the potato (Atlantik variety)-cropping plots located in Serang village, Karangreja district, Purbalingga regency, and at Laboratory of Soil Science and Laboratory of Agricultural Engineering, Jenderal Soedirman University, started from May to August 2014. The treatment is differentiated based on fertilizers and mulches utilized, namely: Plastic Mulch with Organic Fertilizer (MPO), Rice-Straw Mulch with Organic Fertilizer (MJO), No-Mulch with Organic Fertilizer (TMO), Plastic Mulch with Anorganic Fertilizer (MPK), Rice-Straw Mulch with Anorganic Fertilizer (MJK) and No-Mulch with Anorganic Fertilizer (TMK). The investigated variables included Surface Run Off and Soil and Nutrients Loss especially N and P (for direct measurement at field), and also Erosivity (R), Erodibility (K), Length (L) and Slope (S) Factor, Cultivation Factor (C), and Land Conservation Factor (P) (for prediction). Analysis was conducted graphically and by using prediction model of Universal Soil Losses Equation (USLE).The result showed that the rate of surface run off on each plot was MPO: 617.1 m3/ha, MJO: 631.59 m3/ha, TMO: 661.87 m3/ha, MPK: 541.98 m3/ha, MJK:561.95 m3/ha, and TMK: 615.27 m3/ha. The rate of soil losses with direct field measurement on each plot was MPO: 1.88 ton/ha , MJO: 2.15 ton/ha, TMO: 3.62, MPK: 1.99 ton/ha, MJK: 2.29 ton/ha, and TMK: 3.23 ton/ha, while those with prediction model on each plot was MPO: 2.35 ton/ha, MJO: 2.35 ton/ha, TMO: 8.40 ton/ha, MPK: 2.35 ton/ha, MJK: 2.35 ton/ha dan TMK: 8.40 ton/ha. The rate of nutrition losses with direct field measurement on each plot was MPO: 113.85 kg/ha (N) and 146.50 kg/ ha (P), MJO: 127.59 kg/ha (N) and 111.65 kg/ha (P), TMO: 88.19 kg/ha (N) and 104.83 kg/ha (P), MPK: 60.86 kg/ha (N) and 71.34 kg/ha (P), MJK: 92.04 kg/ha (N) and 97.37 kg/ha (P), and TMK: 99.65 kg/ ha ( N) and 129.26 kg/ha (P)
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save