Home
Login.
Artikelilmiahs
10981
Update
ANNURDIYANTO YUNIOR
NIM
Judul Artikel
RESISTENSI MASYARAKAT TERHADAP RENCANA PEMBANGUNAN BANDARA INTERNASIONAL
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo menetapkan visi pembangunannya yaitu “Masyarakat Kabupaten Kulonprogo Yang Maju, Mandiri, Sejahtera Lahir Dan Batin”. Hal ini dibuktikan oleh adanya persetujuan aliran dana APBN untuk pembangunan Bandara Internasional pengganti Bandara Adisutjipto di wilayah Temon Kulonprogo. Warga yang tanahnya akan digunakan untuk proyek bandara Internasional tersebut, ternyata pada umumnya mereka memilih menolak pembangunan bandara sehingga menimbulkan resistensi (perlawanan) dari masyarakat penolak pembangunan bandara. Penelitian ini adalah bagaimana gambaran faktor dan bentuk dari resistensi, dengan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan informan sebanyak tujuh orang. Hasil penelitian menunjukkan bentuk dan faktor-faktor resistensi. Pertama, bentuk resistensi yang terdapat dua bentuk yaitu resistensi tertutup dan terbuka. Masing-masing dari bentuk bentuk resistensi terbuka ialah Menolak relokasi, Memasang spanduk dan pamplet serta kentong titir, Melakukan blockade jalan, pencabutan pathok, penyegelan balai desa dan pembakaran posko, dan membubarkan kegiatan warga yang didalamnya terdapat keterlibatan pemerintah dan PT. Angkasa Pura. Sedangkan resistensi tertutup yaitu mengomel dan membicarakan petugas, menggelar doa bersama, negosiasi kepemerintah daerah. Kedua, faktor pendorong resistensi diantaranya faktor ketidakpuasan terhadap kebijakan pembangunan bandara, faktor ekonomi, faktor budaya.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Regency Kulonprogro set a vision of development that is "The Forward Progo Regency Society, Independent, physical and spiritual prosperity". This is evidenced by the approval flow of state funds for the construction of a replacement airport Adisucipto International Airport in the area Temon Kulonprogro. Those whose land will be used for the International airport project, it turns out they generally choose reject construction of the airport, causing resistance of community development repellent airports. This study is how the image and form factor of resistance, with uses descriptive qualitative research. Data collection techniques used were interviews, observation, and documentation. Informant interviews were conducted with a total of seven people. The results show the shape and resistance factors. First, there are two forms of resistance that forms a closed and open resistance. Each of the forms of open resistance is Refused relocation, Installing banners and pamplets and kentong titir, Doing blockade roads, revocation pathok, sealing the village hall and post combustion, and dissolve the citizens activities in which there is government involvement and PT. Angkasa Pura. While the closed resistance is ranting and discuss officers, held a prayer together, negotiating kepemerintah area. Second, the drivers of resistance among the factors of dissatisfaction with the policy of the airport development, economic factors, cultural factors.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save