Home
Login.
Artikelilmiahs
10590
Update
IMROATUL KANZA AYU ANDANI
NIM
Judul Artikel
Analisis Biaya Fondaparinux Pada Pasien Penyakit Kardiovaskular di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Fondaparinux merupakan antikoagulan pentasakarida sintetik yang terbukti lebih aman dan lebih efektif dibandingkan antikoagulan lainnya seperti heparin dan enoxaparin. Namun, obat ini relatif lebih mahal dibandingkan antikoagulan lainnya sehingga dalam penggunaannya dibutuhkan kendali biaya. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah biaya yang digunakan untuk terapi penyakit kardiovaskular yang menggunakan fondaparinux berada di bawah tarif atau melebihi tarif yang ditetapkan pada INA-CBG’s. Responden penelitian ini adalah pasien penderita penyakit kardiovaslular yang menggunakan fondaparinux baik dengan status umum maupun peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Instalasi Rawat Inap RSUD. Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto periode Januari-Agustus 2014. Penelitian ini menggunakan rancngan deskriptif non analitik dengan metode pengambilan data secara retrospektif. Penelitian ini merupakan tipe penelitian analisis biaya dengan menghitung biaya medis langsung. Biaya medis langsung meliputi biaya obat dan alat kesehatan, biaya pelayanan, biaya penunjang, biaya tindakan, dan biaya administrasi pasien. Biaya medis langsung rata-rata yang diperoleh dibandingkan dengan tarif INA-CBG’s (Indonesia Case Based Groups). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 61 pasien, 19,57% adalah perempuan dan 80,33% laki-laki. Pasien paling banyak berusia 45-59 tahun, dengan diagnosa utama paling banyak adalah Infark Miokard Akut Sedang. Rata-rata lama rawat inap yang dijalani oleh pasien adalah 6 hari dan paling banyak terdapat pada kategori sedang (4-6 hari) dengan 37 pasien. Biaya fondaparinux memiliki proporsi sebesar 55,37% terhadap biaya obat dan alat kesehatan, sedangkan biaya obat dan alat kesehatan merupakan komponen terbesar dari total biaya medis langsung (54,25%). Biaya medis langsung rata-rata pada pasien penderita penyakit kardiovaskular yang mendapatkan terapi fondaparinux masih berada di bawah tarif INA-CBG’s yang digunakan dalam pelakasanaan program JKN. Hasil penelitian ini menyarankan agar pihak rumah sakit tetap menggunakan fondaparinux pada pasien penderita penyakit kardiovaskular yang membutuhkan terapi antikoagulan.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Fondaparinux is a synthetic pentasaccharide anticoagulant which is safer and more effective than other anticoagulants such as heparin and enoxaparin. However, fondaparinux is more expensive than other anticoagulants, so the utilization of fondaparinux needs cost control. The main purpose of this study was to determine whether the costs used for the treatment of cardiovascular disease using fondaparinux is under or exceed the tariff specified in INA-CBG's (Indonesia Case Based Groups). The respondents of this study were patients with cardiovascular disease who received fondaparinux both of general status and participants of the National Health Insurance in RSUD. Prof Dr. Margono Soekarjo Purwokerto from January to August 2014. This study was a descriptive non analytic with retrospective method. The costs used cost analysis type of pharmacoeconomic study by accounted direct medical cost included drugs and medical devices costs, service costs, support costs, and administrative costs of patients. The mean of direct medical costs used by patients compared to INA-CBG's tariff. The results showed that from 61 patients, 19.57% were female and 80.33% were male. Most patients aged 45-59 years old (47.54%) with the most primary diagnosis were Acute Myocardial Infarction. Average length of stay in this study was 6 days and most patients stayed for 4 to 6 days (60.65%). Fondaparinux costs were 55.37% from drugs and medical devices costs, while the drugs and medical devices costs were the largest component of direct medical costs (54.25%). The mean of direct medical costs in patients with cardiovascular disease who used fondaparinux was under INA-CBG's tariff. The results suggested to the hospital for using fondaparinux in cardiovascular disease treatment which require anticoagulant therapy.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save