Home
Login.
Artikelilmiahs
10230
Update
SATRIA ADITYA PRADANA
NIM
Judul Artikel
STUDI PEMANFAATAN RUAS SALURAN IRIGASI PRIMER YANG MEMILIKI MULTI BANGUNAN TERJUN BERTINGGI JATUH RENDAH SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Salah satu pembangkit listrik tenaga air di Indonesia yang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan adalah PLTMH pada saluran irigasi primer. Permasalahan pembangunan PLTMH pada saluran irigasi primer di Indonesia adalah tinggi jatuh yang rendah. Hal ini karena pengurangan energi air pada saluran irigasi di disain secara bertahap. Secara teknis, solusi dari permasalahan ini adalah prinsip penggunaan air. PLTMH dapat dibangun pada ruas saluran irigasi yang memiliki multi bangunan terjun, dengan syarat tidak mengganggu penggunaan air pada saluran irigasi. Pengambilan air hanya dapat dilakukan setelah bangunan bagi pada ruas saluran dan harus dikembalikan sebelum bangunan bagi berikutnya. Penelitian ini dilakukan di Saluran Irigasi Banjarcahyana. Data-data yang terkumpul digunakan untuk menghitung debit dan merencanakan komponen-komponen PLTMH. Pemilihan ruas saluran irigasi untuk pembangunan PLTMH dilakukan menggunakan analisis Multi Objective Decision Making (MODM) dengan metode Collective Utility (CU). Hasilnya ruas dengan nilai potensial terbesar adalah ruas 17. Pada ruas ini, potensi daya bersih sebesar 287 KW dengan debit maksimal 5,371 m3/s. Komponen-komponen PLTMH yang akan direncanakan adalah intake, saluran pembawa, bak penenang, pipa pesat, dan turbin. Hasil perencanaan komponen-komponen PLTMH adalah tinggi muka air disaluran sebesar 0,57 meter, lebar intake 2,9 meter, tinggi intake 1 meter, lebar saluran pembawa sebesar 1,14 meter dengan kemiringan sebesar 0,23, volume bak penenang 53,71 m3, panjang bak penenang 4,5 meter, panjang pipa pesat 541,04 meter, diameter pipa pesat 2,25 meter dengan tebal minimal 2,2 mm, dan tinggi jatuh bersih 6,393 meter. Dengan spesifikasi tersebut, turbin yang paling ideal adalah turbin Kaplan dengan ukuran runner minimal 0,9 meter.
Abtrak (Bhs. Inggris)
One of power plants in Indonesia can be utilized is micro hydroelectric power plant in primary irrigation channel. The problem of Indonesia’s micro hydroelectric power plant construction in primary channel irrigation is the low of the head. It occurs since the decreasing of hydro energy is step by step designed. The solution for the problem is referred to principle of water using. MHP can be constructed on a segments of irrigation channels with multi-drop structures without interference the use of the water in irrigation tunnel. The water only can be tapped after the tap building and must be returned before the next building. This research is located at Banjarcahyana Irrigation Channels. The secondary data will be used to analysis of discharge and plan the components of MHP. Analysis of Multi Objective Decision Making (MODM) with Collective Utility (CU) method is required to decide the most potential segment. The segments with the greatest potential value is segments 17th. In this section, the electricity potential energy is 287 KW with the maximum discharge 5.371 m3/s. The components of MHP which will be planned are intake, headrace, forebay, penstock, and turbine. Results of the MPH components planning are water level in channels of 0.57 meters, width intake of 2,9 meter, high intake of 1 meter,width head race of 1.14 meter with sloope of 0.23, volume forebay of 53.71 m3 with length of 4.5m, length penstock of 541.04 meters with diameter of 2.2 meters and minimum thickness 2,2 mm, net head 6,393 meters. The most ideal turbine is Kaplan type with minimum of runner is 0.9 meters.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save